Selamat datang di blog saya

SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA............

HORAS !!!

Rabu, 30 Maret 2011

Desak Penghentian Ekspansi Kelapa Sawit

MEDAN, ‎​Ratusan massa yang tergabung dalam Konferensi Alternatif Satu Abad Perkebunan Kelapa Sawit, Senin (29/3) berunjuk rasa di Halaman Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Diponegoro Medan.

Sebelumnya pengunjuk rasa menjadikan jalan Imam Bonjol depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara sebagai titik kumpul. Dengan mengambil rute dari depan kantor DPRD ke Tiara Hotel dan diteruskan ke kantor Gubernur Sumatera Utara.

Dalam pernyataan sikapnya, massa menuntut pemerintah menghentikan ekspansi perkebunan kelapa sawit yang direncanakan mencapai 20 juta hektar dalam beberapa tahun ke depan. "Dengan adanya perkebunan kelapasawit yang saat ini mencapai 7,9 juta hektar telah menimbulkan banyak permasalahan. Diantaranya, pengurangan lahan pangan seperti sawah, konflik yang berkepanjangan antara masyarakat dan pemerintah serta pengusaha kelapa sawit, serta banyaknya kawasan hutan yang hilang," kata Ketua Konfrensi Alternatif Satu Abad Perkebunan Kelapa Sawit Saurlin Siagian, dalam orasinya, seiring dengan peringatan semarak industri kelapa sawit di Indonesia.

Massa berpendapat komersialisasi kelapa sawit di Indonesia yang dimulai sejak tahun 1911 justru berkembang ke arah kapitalisasi perkebunan melalui ekspansi yang massif, terutama dalam sepuluh tahun terakhir. Ekspansi tersebut dipicu oleh tingginya permintaan pasar global minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) baik untuk keperluan produk bahan makanan aupun aneka produk kosmetik dan energi (agrofuel).

"Ironisnya, espansi perkebunan kelapa sawit yang didukung investasi korporasi hanya membawa derita bagi rakyat Indonesia. Pasalnya ekspansi tersebut telah merusak Daerah Aliran Sungai (DAS), hal ini ditandai dengan matinya lebih dari 5.000 DAS yang berada di Kawasan Taman Nasional. Dampaknya, banjir terus terjadi dan menjadikan masyarakat harus mengungsi setiap tahun," kata Siagian. 

Massa juga pesimis dengan wacana yang dikembangkan pemerintah, yang menyebutkan ekspansi 20 juta hektar perkebunan kelapa sawit akan menyerap sekitar 10 juta buruh. Sebab, kata Siagian, data yang mereka miliki  dari 100 hektar lahan perkebunan kelapa sawit hanya mampu menyerap 22 orang tenaga kerja saja. Artinya, dengan 20 juta hektar tenaga yang bisa diserap hanya 4,4juta orang saja.

"Ekspansi perkebunan kelapa sawit yang terjadi hanya membangkitkan kembali praktek kuli kontrak dengan nama Buruh Harian Lepas (BHL) dan tukang berondolan yang bekerja setiap hari tanpa jaminan kerja, bahkan tanpa ikatan kerja yang jelas," katanya. Setelah berorasi, massa pun membubarkan diri tanpa diterima oleh perwakilan dari Pemerintah Propinsi Sumatera Utara.

Dalam aksi tersebut, mereka melakukan teatrikal berupa pertunjukan bagaimana proses perambahan hutan untuk ekspansi lahan. Dan membuat bola bumi dengan kreatifitas yang menunjukkan rusaknya ekosistem di bumi.

Ada juga teatrikal menunjukkan pohon sawit yang diperankan dua orang manusia berdandankan ibarat pohon sawit. Serta personil-personil perkebunan yang berkeja di kebun. Mulai dari mador sampai buruh yang diperbudak.

Namun dalam aksi yang diadakan beserta dengan teatrikal ini, tidak diterima pejabat di kantor Gubernur Sumatera Utara. Sehingga mereka pun membubarkan diri dengan teretib.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar