Suatu hasil akan lebih bermakna jika kita bisa menyadari dan menikmati proses bagaimana kita peroleh hasil tersebut. Maka, proses lebih baik daripada hasil yang diperoleh.
Selamat datang di blog saya
HORAS !!!
Minggu, 10 Maret 2013
Ada Permulaan Pasti Berpenghujung
Persaudaraan, persahabatan, dan kekeluargaan. Semua yang kumiliki tiada arti dibanding yang lain. Terbisik di dalam hati, petuah yang kerap disampaikan para orangtua. Memandang ke atas tak harus menjadikan diri rendah, dan melihat kebawah tak bermaksud bermegah dan menjadi angkuh.
Lagi-lagi perumpamaan yang sesungguhnya sangat mendasar. Lebih baik tangan di atas. Padahal, sampai saat ini belum ada yang bisa ku perbuat selain hanya melakukan segelintir dalam kehidupan ini. Tak pantas dibanggakan, walau tetap harus disyukuri kehidupan yang sedang dijalani.
Mungkin menjadi gambaran, ketika harus menerima dan menjalani segala rutinitas dan segalanya hanya demi hari esok. Tak lebih dan tak kurang, selama kita bisa mensyukurinya.
Banyak hal, yang mestinya membuat ku bersyukur namun itu tidak kusadari. Justru membuat hidup semakin tidak bermakna dan semakin membenci sekelilingku. Segelintir semangat dan energy yang tersirat dan tertanam dalam sanubariku.
Meski demikian, banyak perkara di sekitarku yang menjadi pembelajaran. Banyak motivasi dan dorongan untuk tetap berupaya, hanya saja itu tak bisa ku mengerti. Sampai kapan harus menanti hasil kerja yang hanya satu kali dalam satu bulan ini.
Memang ku sadari, tak mudah melepas ini semua. Dan memulai dari awal lagi. Hanya bisa berharap, sembari berjalan dan menjalankan ini semua, akan ada pintu cerah untuk lebih baik ke depan.
Pertarungan setiap hari akan dilalui dengan penuh lika-liku. Baik itu masalah keuangan, pekerjaan, dan relasi. Semua pasti ada masanya. Tiada sesuatu yang bermula, kemudian tidak berpenghujung.
Ketika ada kemiskinan, berarti akan ada kekayaan. Sementara ada keterpurukan, berarti harus ada kebangkitan. Tinggal bagaimana memanggil jiwa-jiwa dan membakar api semangat yang lebih membara di tengah tubuh yang lemah dan penuh derita ini.####
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Rabu, 06 Maret 2013
Warga Gereja di Sumut Tergadai Oleh Lambang Salib
Jika saja penipuan itu tidak terjadi, mungkin situasi akan berbeda. Dimana partai yang selama ini justru memperjualbelikan ideologi umat kristen di Indonesia lagi-lagi akan menjual ideologi itu.
Kenapa saya katakan demikian, nyata-nyata lambang salib itu hanya cara merangkul dan masuk di tengah masyarakat saja. Namun, nilai-nilai kekristenan tidak terkandung dalam partai itu sendiri. Hanya saat-saat ada pertarungan politik, maka akan mencoba kembali kepada garis dan ajaran alkitab. Selebihnya, masuk dalam politik "gelap".
Terbukti, tidak lolosnya dalam verifikasi untuk Parpol peserta Pemilu 2014 yang dilakukan oleh KPU pusat. Justru salah satu partai yang lengser dari daftar. Nah, apakah ini yang disebut partai salib yang disebut dalam kekristenan itu? Apakah benar-benar partai itu berlandaskan kekristenan? Atau hanya memainkan politik busuk mengatasnamakan kekristenan?
Kini, dalam mengusung calon Gubernur Sumut Parpol ini kembali mendoktrin dan mencoba merusak ideologi warga dan jemaat kristen. Dengan alasan, yang diusung partai salib adalah si X, yang jelas-jelas menjadi calon Sumut 1.
Sebagai masyarakat awam, saya sangat kasihan dan sedih melihat warga gereja saat ini. Yang diperalat dan akan turut membantu pembohongan dan penipuan yang dilakukan pasangan dan parpol tak berakhlak itu. Yang tidak memandang buluh, dan selalu mejebak serta menggadaikan segala cara untuk merebut kekuasaan itu.
Bagaimana mungkin? Seorang yang sejak lahir tidak tahu Sumut seperti apa justru ingin memimpin Sumut? Bahkan, bakal calon Gubernur juga tidak pernah dalam Sejarah proses Pilgub Sumut 2013. Tiba-tiba malah calon gubernur dan tetap memperalat kemiskinan dan keluguan warga gereja untuk mewujudkan cita-cita penipuannya.
Warga gereja seharusnya mampu melihat ini lebih jelas dan lebih bijaksana. Ketika organisasi gereja dilibatkan, dimana pendeta-pendeta justru sibuk mengurusi pasangan ini. Kini gereja sibuk membicarakan calon gubernur. Memang, peran gereja sebagai organisasi kemasyarakatan tentu secara langsung berkontribusi dalam penentuan masa depan Sumut ke depan.
Yang saya sayangkan adalah, ketika gereja terlibat dalam konstelasi politik yang salah. Dimana, jika sikap melihat parpol yang mengusung berlambang salib, atau seseorang calon yang bergama kristen, justru akan merusak demokrasi itu. Percayalah, kalau sajapun ada kemungkinan warga gereja memimpin Sumut, tidak akan dibiarkan oleh mereka (mayoritas). Itu akan menyulitkan ke depan, ujung-ujungnya Sumut yang kacau akan terjadi. Kemudian, orang yang tidak merasa memiliki Sumut akan tinggal diam dan akan memikirkan kepentingannya saja. "Orang harta, keluarga dan kampung halamanku bukan di Sumut. Cuma nenek moyang saja yang disana. Mau ribut, tibut aja loe".
Akan menjadi tamparan lebih keras lagi, ketika rencana busuk di balik ini semua akan terungkap. Dimana seseorang yang tiba-tiba ingin menguasai Sumut, berhasil duduk dan akan melakukan rencanannya.
Kan, sudah jelas. Dari beberapa kali debat secara live di hadapan seluruh warga Sumut, tak ada yang mereka bisa katakan dengan tutur yang sesuai alur dan sistematik. Tak ada yang terukur, dan justru seperti anak-anak yang mempertontonkan kebodohannya.
Bagaimana mungkin, yang tidak tahu ruang-ruang di sebuah rumah justru ingin langsung menguasai rumah saat ada masalah dalam rumah? Tentu harus lebih dahulu mendalami seluk beluk rumah. Bukan langsung ambil alih pengamanan.
Kini, warga gereja saya harap bisa mengerti dan paham kondisi ini. Agar tidak terprovokasi dengan partai berlambang salib. Ironisnya, salib juga bisa saja menjadi lambang para anak pank, dan iblis. Saat Tuhan Yesus disalibkan di Golgota, juga ada dua salib lainnya. Apakah itu semua salib gereja? Kan. Tidak! Di sisi lain, pendeta juga harus sadari itu. Apakah salib di gereja yang kau pimpin itu, salib Yesus?
Kepada warga Gereja di Sumut, saya minta cerdaslah. Jangan sampai imanmu tergadaikan hanya karena simbol-simbol itu. Ingatlah, kalau saja Parpol salib itu komitmen akan mengusung calon yang termajinalkan itu, maka parpol muncung putih akan kekurangan kursi. Namun, mereka juga bahkan mengikuti proses politik kapitalis itu. Ya sudah, makanya jangan sampai ikut tertipu.
Kini tinggal bagaimana, warga gereja bisa mengerti proses "penganiayaan" dan "penipuan" politik yang dialami RE Nainggolan. Bukan tidak bisa beliau maju sebagai calon perseorangan? Tapi hanya karena dijebak, akhirnya seperti ini.
Semoga penipuan tidak berlanjut ke depan. Horas Sumut!!!
Syalom..... Tuhan memberkati
#####
Jangan Lupa, 7 Maret 2013 di TPS masing-masing....
Silahkan pilih sesuai dengan keyakinan saudara-saudara. Tetap gunakan hak pilih, sebelum kekuasaan rakyat itu dikembalikan ke Parlemen.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Minggu, 10 Februari 2013
Hidup Berarti Punya Banyak Sahabat
Dimana saya bisa bertemu teman dan rekan dari Pematangsiantar di Medan. Tak tanggung-tanggung.... Paginya bertemu dan saling tegur dengan Kabag Ops Polres Pematangsiantar Kompol B Turnip di Mako Brimob Polda Sumut.
"Sudah di sini sekarang? Mantablah, jangkauan sudah lebih luas," ujar Pak Kabag Ops. Pertemuan itu saat mengikuti simulasi Rencana Operasi Mantap Praja Roba -2013 tentang Pengamanan Pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Provinsi Sumu tahun 2013.
Sekitar pukul 11.00 wib, saya beranjak dari Mako Brimob menuju Hotel Santika Dhyandra, salah satu hotel yang juga satu group dengan perusahaan saya bekerja, Kompas Gramedia Group.
Agenda "Chairul Tanjung Berbagi Pengalaman" Pertemuan yang bertajuk pada Sharing, Learning, Book Signing itu. Dilaksanakan di Toko Buku Gramedia lantai dua hotel tersebut.
Dari ratusan undangan yang hadir, saya mencoba menelusuri beberapa wajah yang mungkin saya kenali. Ternyata saya bertemu dengan beberapa pimpinan Toko Buku dan percetakan Gramedia.
Mengikuti cerita perjalanan hidup Chairul Tanjung sangat menarik perhatian ku. Bukan saja aku, tapi yang lain juga. Nyatanya tak ada yang bergeming, saat acara diskusi berlangsung. Semua fokus.
Tiba saatnya para undangan yang ingin dibubuhi tandatangan sang pengusaha ternama tersebut di buku yang merupakan cerita perjalanan CT. Satu persatu maju ke depan. Ternyata diantara undangan ada lagi satu pria yang tidak asing. Muhammad Al Harris, seorang staf Bank Indonesia Perwakilan Pematangsiantar.
Pria yang juga sedang menggeluti sebuah usaha busana anak di Pematangsiantar bersama istrinya. Tidak tanggung-tanggung, pria ini memiliki jiwa pejuang. Tak mau kalah dengan perkembangan zaman. Menyediakan busana anak dengan model terbaru du toko Haritsa Kids Store miliknya menjadi kegiatan disela-sela aktivitasnya sebagai pegawai BI.
Aku pun menegurnya. Dengan ramah pria berjenggot tipis ini menegur saya balik. Karena buru-buru harus kembali ke Pematangsiantar, seperti biasa harus mengurus bisnisnya, ia pun pamit.
Sebelumnya, handphone aku pun telah berdering, dan dari seberang meminta ku hadir di Jl Teratai Medan. "Kesini dulu kau, ada acara deklarasi organisasi kami," ujarnya dari seberang. Karena asyik mendengar cerita tentang kisah sukses Chairul Tanjung, aku pun sedikit mengabaikan. Tanpa langsung menanggapi sebagaimana setiap kali ada panggilan dari balik telepon.
Kali ini, mendengarkan dan mencoba mengikuti cerita Chairul Tanjung menjadi yang utama. Sempat berbincang dengan Manager Toko Buku Gramedia Hotel Santika Dyandra, Mas Rela.
Saat semua usai, menikmati goreng balok (singkong di goreng), dan getuk (makanan olahan dari singkong juga) di acara Si Anak Singkong, aku kembali memperjelas telepon sebelumnya. Tanpa pikir panjang, aku pun meninggalkan Hotel Santika Dhyandra.
Gas Si Cantik Manis (sebutan motor ku) ku tancap dan akhirnya tiba di lokasi peresmian organisasi seperti disampaikan. Di sana aku bertemu dengan pria berambut putih dengan kemeja putih, siapa lagi kalau bukan H Natsir Armaya Siregar. Mantan Ketua Dewan Pendidikan Kota Pematangsiantar. Yang belum lama ini usai menyelesaikan tugas sebagai ketua panitia seleksi komisioner Dewan Pendidikan Pematangsiantar.
Dengan sigap, kutemui dia. Dan langsung di arahkannya, teman-teman wartawan tengah melakukan wawancara dengan anggota DPR RI yang hadir di kegiatan itu. Ternyata ramai, rekan-rekan sibuk menghujani sang politikus dengan pertanyaan pamungkasnya.
Sempat sekelak aku berusaha mencatat yang diungkapkannya. Salah seorang rekan menegur, dan mengingatkan ku. "Itu kan ada bang Rizal?" ujarnya. Oh iya, ternyata ada bang Rizal Daulay. Wartawan Bisnis yang handal di tempat ku bekerja. Aku pun menghentikan catatanku.
Berhubung aku sampai di akhir acara, ternyata masih sempat juga bercerita sekilas tentang kondisi Kota Pematangsiantar yang kutinggalkan sejak 1 Februari 2013. Tak bisa berlama-lama dengan praktisi pendidikan Pematangsiantar itu, kami pun berpisah. Aku tinggalkan tempat itu.
Aku simpulkan, hari Sabtu kali ini penuh bermakna. Bisa bersalaman dan foto bersama Chairul Tanjung, bertemu dengan beberapa orang penting dari Pematangsiantar.
Bravo....!!!!!!!
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone