Selamat datang di blog saya

SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA............

HORAS !!!

Kamis, 30 Mei 2013

Kisah Batu Permata

Sesuatu Yang Berharga


Seorang penambang batu permata menggali beberapa titik di suatu wilayah yang dinilai mengandung batu permata. Dengan susah payah ia menggali, dan terus menggali.

Di perjalanan penggalian ia menemukan beberapa bongkah batu, dikumpulkannya. Saat diasah ternyata tidak menjadi batu permata yang bernilai mahal. Itupun, karena saat diasah, bongkahan tadi tidak retak dan mau mengeluarkan pancaran warna-warni. Batu itupun jadinya berharga.

Si penambang merasa bangga dan belum puas sebelum menemukan batu permata sesungguhnya. Ia pun meneruskan menggali, setelah ratusan kali menemukan bongkahan, belum juga ditemukan bongkahan permata.

Suatu saat ia menemukan bongkahan yang berkilau, dan seketika ia bersorak kegirangan. Perlahan diangkatnya, dan dibersihkannya dari tanah yang membalutnya. Hanya saja, saat proses mengasah batu tadi, retak dan hancur. Tak berguna. Walau awalnya berkilau, justru tidak berguna karena tak bisa diasah dan dibentuk. Sipenambang tidak kecewa, sebab bongkah tadi ternyata bukan yang dia cari.

Dengan modal semangat dan kegigihan, ia meneruskan penggaliannya. Tak lama ia menemukan bongkahan yang salah satu sisinya kemilau. Seakan tidak percaya, dan takut akan tertipu akan penampilan lagi. Ia hanya menumpuk bongkahan tadi di tumpukan beberapa bongkahan batu biasa lainnya.

Lelah ia menggali dan menggali. Suatu sore hari, ia keluar dari lubang tanah tempatnya menggali batu permata. Ia kembali ke kemah yang dibangunnya tidak jauh dari pintu masuk terowongan penggalian.

Sembari menikmati segelas kopi hangat, matahari hampir terbenam. Ia termenanung, dan memandangi tumpukan bongkahan batu yang tidak diharapkannya itu. Hujan rintik-rintik membasahi permukaan bumi dan juga bongkahan batu yang digali dari perut bumi itu.

Harapannya, esok saat menggali ia akan menemukan apa yang ia cari. Ia pun menghabiskan malam untuk memulihkan tenaganya, terlelap diterangi lampu teplok yang digantungnya mengeluarkan cahaya buram malam setiap malam.

Dengan mata sebam, sang penambang bangkit dari atas selembar tikar usang tempat dia merebahkan tubuhnya semalaman. Mengangkan kedua tangannya dan menghirup udara pagi.

Pancaran sinar matahari di pagi itu menembus kemahnya, namun tidak berasal dari arah timur seperti biasanya. Ia pun serasa bermimpi. Dia mengucek matanya dengan kedua jari jempol tangannya. Dengan sedikit gerakan kaku, ia meraih salah satu sisi kemahnya.

Saat terbuka lebar, pancaran sinar itupun menerpa wajahnya dan membuatnya terkesiap. Ternyata sinar yang masuk ke kemahnya berasal dari tumpukan bongkahan batu galiannya.

Terkejut kepalang, ia pun bangkit walau tubuhnya yang tergolong sudah tua dan membungkuk itu sulit untuk ditegakkan. Ia mendekati tumpukan bongkahan batu dan mencoba mencari sumber pantulan sinar matahari pagi itu yang cerah.

Ternyata gerimis malam harinya mencuci bongkahan batu dari tanah yang masih menempel. Salah satu diantaranya, yang tadinya dia acuhkan karena takut tertipu, menjadi sumber pantulan cahaya.

Astaga! Betapa bahagianya sang penambang, ternyata ia telah menggali sebuah bonhkahan batu permata yang sangat indah dan siap dibentuk. Dengan sedikit goresan senyum kegirangan di wajahnya, ia mengangkat bongkahan itu.

Ia seakan tak percaya, dia pulang dan mengabarkan kepada sanak saudaranya. Semua memberi sambutan hangat. Karena nilai bongkahan itu sangat tinggi jika sudah diasah.

Si penambang akhirnya memutuskan untuk berhenti menggali dan mengasah batu permata yang sangat indah itu. Namun karena masih bongkahan, belum memiliki arti. Ia harus mengasah dan membentuknya.

Hanya saja, tak semua bongkahan batu permata bisa diasah dan menjadi batu permata yang mahal. Itu tergantung kandungan batu permata yang lentur dan bisa dibentuk. Suatu saat, bongkahan besar yang memantulkan sinar matahari dengan indah itu akan hanya pelengkap persiasan lainnya. Jika tidak bisa dibentuk dengan baik. Tidak akan pernah bisa menjadi perhiasan, melainkan hanya kerikil yang akan terbuang dan. Dipijak orang di tepi jalan.

Saat bongkahan batu yang sesungguhnya tidak memiliki nilai, akan bernilai tinggi ketika diasah dan memancarkan nilai yang lain, nilai yang baru dan memberikan sebuah arti. Itupun akan dipajang di tempat yang bisa dipandang orang, untuk menyejukkan dan menambah kesan elegan.####
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Kamis, 02 Mei 2013

Wisata Air Tadah Hujan di Kota Medan

Memasuki musim penghujan, Kota Medan akan menyajikan pemandangan dan pengalaman berbeda bagi setiap warga setempat maupun warga pendatang. Wisata air tadah hujan akan menjadi pemandangan dan pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Wisata yang dimaksud di sini adalah genangan air di jalan raya saat hujan turun. Tidak tanggung-tanggung, ibarat pengunjung tempat wisata yang mengantri, kendaraan akan ,mendadak merayap di speanjang jalan di pusat kota. Bukan saja jalan utama, namun jalan kecil dan gang ke gang akan tampak pemandangan  yang sama.
Seperti pemandangan yang terjadi pada Kamis (2/5) siang. Sekitar pukul 11.00 WIB, hujan mengguyur kota ini. Tidak lama, air di jalanan sudah tergenang dan semakin lama, air dalam saluran drainase menyembur ke luar.
Beberapa kali hujan turun, banjir di jalanan selalu terjadi. Seperti penelusuran yang dilakukan Jl Tanjung Pinang, kawasan Kesawan, Jl Kejaksaan, Jl Imam Bonjol, Jl Sudirman, Jl Diponegoro, Jl Cut Meutia. Seluruhnya dengan ketinggian air sekitar 5-30 cm.
Kondisi ini sangat mengganggu pengguna jalan raya, bukan saja roda dua, melainkan juga kednaraan roda empat atau lebih yang melintas saat hujan turun. Mereka harus merayap, dan tidak bisa berbuat lebih. Sebab, akan sangat berhati-hati melintasi permukaan aspal yang digenangi air seolah rata. Banyaknya lubang jalan, akan mengancam pengguna jalan raya.####

Kamis, 25 April 2013

Eksekusi Susno Duadji Bawa Teka-teki

BERBAGAI teka-teki muncul di tengah sulitnya kehidupan di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini. Saling membela kepentingan sendiri, mengabaikan kepentingan hukum yang menjadi dasar negara ini berdiri. Tak ada yang peduli dengan hukum, sosial, dan segala aspek halal jika penguasa mau.
Masyarakat yang kesulitan untuk mememnuhi kebutuhan sehari-hari, dicekoki dengan informasi tingkahlaku para elit politik yang tidak membangun. Masa, seorang Komjen Purn Susno Duadji yang mengerti akan hukum, justru menghindari proses hukum.
Muncul pertanyaan dalam benak saya, bagaimana pula jika yang tidak tahu hukum dijatuhi vonis oleh pengadilan. Pengadilan merupakan lembaga yang dinyatakan sebagai lembaga hukum untuk menetapkan seorang warga negara bersalah atau tidak sesuai dengan perundangan yang berlaku.
Bangsa ini semakin galau ketika ada pernyataan dari Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) MS Ka'ban yang menaruh curiga atas eksekusi paksa Susno Duadji oleh Kejaksaan Agung terkait dengan kasus Bank Century.
"Kecurigaan saya, Pak Susno mendesak dieksekusi oleh Kejaksaan karena terkait kasus Bank Century. Orang-orang yang terkait Bank Century meminta eksekusi itu segera dilaksanakan," kata Ka'ban ketika dikonfirmasi Tribunnews.com, Kamis (25/4/203).
Berbagai dugaan dan pemikiran bermunculan, termasuk langkah yang diambil oleh Polda Jawa Barat yang melakukan pengaman saat Kejaksaan Agung turun untuk melakukan eksekusi di kediamannya, Rabu (24/4). Tim Kejaksaan Agung batal menggiring Susno Duaji untuk menjalani vonis penjara yang dijatuhi hakim.
Dalam amar putusannya, majelis hakim menilai Susno Duaji terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam penanganan kasus PT Salmah Arwana Lestari, (PT SAL), saat dirinya menjabat sebagai kabareskrim mabes polri.
Selain itu Susno Duaji juga terbukti melakukan tindak pidana korupsi terkait dana pengamanan pilkada Jawa Barat pada tahun 2008, saat menjabat Kapolda Jawa Barat. Atas perbuatannya tersebut majelis hakim menjatuhkan hukuman penjara kepada Susno Duaji selama 3,5 tahun, membayar denda sebesar 200 juta rupiah dan membayar uang pengganti sebesar 4 milyar rupiah. Susno Duaji sendiri menyatakan akan banding atas putusan dari majelis hakim.      
Vonis majelis hakim sendiri lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut hukuman 7 tahun penjara dan denda 500 juta rupiah, kepada Susno Duaji.
Banyaknya pemikir yang brilian di negara ini menjadikan berbagai perkara semakin runyam. Semua memberikan pendapat dan protes terhadap putusan pengadilan. Namun tidak ada satu pun nampaknya yang bisa memberikan solusi tanpa merugikan pihak lain.

Minim Kepercayaan

Masyarakat akan semakin antipasti terhadap penegak hukum di negara ini. Pasalnya, banyak keputusan dan tindakan yang diambil justru memungkinkan untuk diganggu gugat. Bahkan, setelah melakukan gugatan tidak jarang mengalami perubahan keputusan.
Parahnya, kebanyakan yang terjadi setelah diindikasikan ada lobi-lobi di balik layar, atau dibalik meja. Tipu muslihat dipertontonkan.
Sayangnya, bukan saja kondisi ini terjadi di lembaga hukum saja. Melainkan di seluruh lini pemerintahan yang ada saat ini. Baik di eksekuti, legislative, dan yudikatif. Tidak ada yang tidak terlibat dan menjadi bahan tontonan masayarakat.
Jika bangsa ini terus menerus mempertontonkan hal sama kepada generasi muda, mau kemana bangsa ini? Apakah akan menjadikan bangsa yang tidak pancasilais? Sehingga para elit politik dan pemerintahan saat ini hanya mempertontonkan sesuatu yang tidak sepantaskan dipertontonkan.
Sebentar lagi, bangsa ini akan dihadapkan dengan pesta demokrasi untuk menentukan para perwakilan rakyat periode 2014-2019. Semua menjanjikan kemakmuran kepada rakyat, tebar pesona mulai terjadi dimana-mana. Padahal lembaga DPR juga tidak luput dari permasalahan, mulaid ari korupsi, bahkan masalah moral dan seksualitas.##